Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 17 Maret 2011

Perkembangan Peserta Didik Usia 1-5 Tahun

USIA ANAK SATU SAMPAI DENGAN LIMA TAHUN

A.    Pengertian Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu pola perubahan secara progresif organisme baik dalam struktur maupun fungsi (fisik maupun psikis) yang bersifat kualitatif dan kuantitatif yang terjadi secara teratur dan berlangsung sejak masa konsepsi sampai akhir hayat, berdasarkan pertumbuhan, kematangan, pengalaman dan belajar.

1.      Perkembangan sesudah tahun pertama
Perkembangan sesudah tahun pertama ditandai oleh beberapa proses-proses yang sangat fundamental. Misalnya perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian ditandai oleh perkembangan tingkah laku lekat. Tingkah laku lekat harus tumbuh dan menjadi stabil sebagai latar belakang struktural tingkah laku yang akan datang.dalam tahun pertama harus dibuat suatu basis bagi timbulnya tingkah laku lekat yang nanti akan memegang peranan yang esensial sepanjang hidup.
Secara singkat ada 8 tanda-tanda esensial yang dapat disebutkan dalam perkembangan seorang anak antara akhir tahun pertama dan permulaan usia 4 tahun.
Dalam periode ini terjadi kemajuan yang sangat pesat. Kemungkinan-kemungkinan yang ada pada permulaan periode ini, dapat dilihat pada akhir periode tersebut pada suatu kenyataan.
Kemajuan-kemajuan itu adalah :
1.      Pada permulaan periode ini anak bisa duduk, berdiri dan berjalan dengan bantuan. Bila anak mencapai usia 4 tahun ia dapat meloncat-loncat, memanjat, merangkak dibawah meja dan kursi, dapat melakukan gerakan-gerakan yang kasar dan halus dengan tangan, kaki, dan jari-jarinya. Dalam hal motorik praktis ia dapat mandiri.
2.      Pada usia 4 tahun maka tangan dan mata bekerja sama dalam koordinasi yang baik, anak lebih dapat mengadakan orientasi dalam situasi-situasi yang tidak asing.
3.      Pada usia 4 tahun anak sudah dapat berbahasa.
4.      Pada akhir periode ini anak memperoleh pengertian banyak mengenai benda-benda menurut warna dan bentuknya, membedakan suara keras dan lembut, ia mengerti nama benda-benda dan dapat menanyakan nama benda yang belum diketahuinya.
5.      Pada usia 4 tahun anak sedikit benyak sudah mengerti ruang dan waktu.
6.      Pengertian akan norma-norma pada anak usia 4 tahun juga sudah ada. Kata-kata “baik”, “buruk”, “tidak boleh”,”jangan”, dan sebagainya merupakan tanda-tanda untuk mengatur tingkah laku.
7.      Kebutuhan untuk aktif, untuk berbuat sesuatu makin lama makin ditentukan secara kognitif, atinya: perbuatan dan tingkah lakunya tidak lagi ditentukan secara kebetulan sesuai dengan apa yang ada; anak sudah dapat membuat rencana, memikirkan apa yang akan dilakukannya. Dalam batas-batas tertentu anak sudah mempunyai perspektif masa depan.
8.      Anak tidak hanya menginginkan ada bersama-sama dengan orang dewasa, melainkan ia sudah menginginkan dapat bergaul secara aktif dengan mereka.
Sampai sekarang belum diberikan perhatian terhadap suatu hal yang penting dalam perkembangan anak, yaitu mengenai permanensi objek yang tidak boleh dikacaukan dengan konstansi besar dan bentuk.

2.      Perkembangan Fisik, Psikomotor dan fisiologis
Perkembangan anak antara akhir tahun pertama dan tahun ke empat terjadi dengan kemajuan-kemajuan yang pesat. Anggota-anggota badan tumbuh dengan kecepatan yang berbeda-beda. Umur kerangka (skelet) dapat dilihat dari pergeseran tulang pada tangan anak. Seorang anak dapat mempunyai umur kerangka 4 tahun sedangkan umur kronologisnya adalah 6 tahun.
Proporsi badan dan jaringan urat daging dapat dikatakan tetap sampai kurang lebih tahun kelima. Sekitar tahun kelima mulailah apa yang disebut “Gestaltwandel” pertama (Zeller, 1936). Hal ini berarti bahwa anak yang sampai sekarang mempunyai kepala yang relatif besar dan anggota badan yang pendek akan mulai mempunyai proporsi badan yang seimbang. Anggota badannya menjadi lebih panjang, perutnya mengecil dan kepalanya dibanding dengan bagian-bagian badan yang lain mendapatkan proporsi yang normal. Semua jaringan-jaringan tulang dan urat daging lebih berkembang, menjadi lebih berat. Jaringan lemak bertambah lebih lambat. Selama tahun kelima nampak perkembangan jaringan urat daging secara cepat (Gestatwandel kedua mulai sekitar umur 10 tahun, yaitu pada waktu mulainya pubertas atau pada waktu mulainya perkembangan seksualitas).
Sekitar usia 3 tahun anak sudah dapat berjalan secara otomatis, bahkan pada alas yang tidak rata anak sudah dapat berjalan tanpa kesukaran. Sekitar 4 tahun anak hampir menguasai cara belajar orang dewasa. Belajar berjalan banyak berhubungan dengan proses-proses pemasakan yang dapat berjalan maka ia juga akan mencoba untuk berjalan dengan berbagai variasi, misalnya berjalan mundur (± sekitar 17 bulan) dan berjalan di atas tumit (± sekitar 30 bulan).
Sekitar bulan ke-18 anak mencoba untuk lari, tetapi gayanya masih menyerupai gaya berjalan. Pada usia 2 atau 3 tahun anak betul-betul dapat lari, tetapi ia belum mampu untuk berhenti dengan cepat atau untuk membalik. Pada usia 4 sampai 5 tahun anak sudah dapat lari seperti orang dewasa dan dapat menggunakan kemampuannya ini dalam aktifitas-aktifitas permainannya.
Sesudah dapat berjalan dengan baik, anak juga belajar untuk berjalan memanjat dan menuruni tangga. Sekitar 18 atau 20 bulan anak dapat memanjat tangga dengan bantuan orang lain. Menuruni tangga baru dapat dilakukan kemudian. Disamping perbedaan-perbedaan perseorangan dapat dikatakan bahwa 90% anak pada usia 6 tahun sudah menjadi pemanjat-pemanjat yang baik.
Sekitar 2 atau 3 tahun anak juga belajar meloncat-loncat, berjingkat-jingkat dan berbagai variasi berjalan yang lain. Sekitar 29 bulan anak dapat berdiri di atas sebelah kaki. Anak usia 3 tahun masih mempunyai kesukaran untuk menangkap bola atau untuk memukul bola dengan tongkat. Sekitar usia 4 tahun anak sudah agak pandai untuk melakukan hal itu. Pada anak usia ini anak juga banyak belajar berbagai macam koordinasi visio-motorik. Aktivitas-aktifitas senso-motorik telah dapat diintregai menjadi aktivitas yang dikoordinasi. Apa yang dilihat dengan mata harus dapat dipindahkan dengan motoriknya menjadi sebuah pola tertentu. Sekitar tahun ke-4 juga semua pola lokomotorik yang biasa sudah dapat dikuasainya.
Perkembangan perseptual atau perkembangan pengamatan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor keliling. Perkembangan pengamatan yang terjadi pada waktu ini adalah perkembangan pengamatan bentuk.
Latihan kebersihan juga termasuk perkembangan psikomotorik karena latihan kebersihan membutuhkan pemasakan urat-urat daging alat-alat pembuangan. Anak harus mampu untuk menguasai urat daging alat-alat pembuangannya pada waktu hendak buang air kecil atau buang air besar. Anak baru mampu melakukan hal ini pada usia kurang lebih 15 bulan.

3.      Perkembangan kepribadian dan perkembangan sosial
a.       Tingkah laku lekat sesudah umur satu tahun
Tingkah laku lekat dapat ditinjau dari dua macam segi. Segi yang satu menunjukkan bahwa tingkah laku lekat terjadi karena proses belajar, sedang segi yang lain menyatakan bahwa tingkah laku lekat tersebut merupakan cirri khas manusia. Manusia mempunyai ciri khas untuk bercakap-cakap, untuk mengadakan manipulasi dan eksplorasi benda, untuk mencari kontak dengan manusia lain. Dari cirri-ciri khas inilah timbul tingkah laku lekat. Tingkah laku lekat merupakan kecenderungan dasar pada anak yang sudah ada sebelum proses-proses belajar dapat terjadi. Dalam hubungan yang dinamis yang merupakan sifat khas hubungan antara ibu(pengasuh) dan anak, maka tingkah laku lekat dapat dipandang sebagai “sifat struk-tural dari hubungan ibu dan anak” (Hartub, 1973, h. 17).
Pendapat yang dikemukakan baru mengenai pendapat tentang tingkah laku lekat pada tahun pertama. Dalam hal ini ada dua teori: 1) teori diferensiasi dan 2) teori parallel.
1). Teori diferensiasi
      Teori ini didasarkan pendapat Bowlby (1951). Sejak lama kelekatan dan ketergantungan dianggap mempunyai arti yang sama. Kenyataannya dua hal ini sangat berbeda satu sama lain. Pada kelekatan maka anak mencari kontak sosial tetapi juga suatu sikap penuh kehangatan dan kasih sayang. Dalam hal ini anak mempunyai pilihan terhadap orang-orang tertentu: pertama adalah ibunya, ayahnya atau anggota-anggota keluarga yang lain.
Menurut teori diferensiasi anak dianggap relatif mempunyai kelekatan dengan ibunya sampai kurang lebih 6 tahun; baru sesudahnya anak akan mengadakan ikatan dengan orang-orang dewasa yang lain.
Dalam teorinya kemudian, Bowlby (1972) mengemukakan bahwa sesudah umur 3 tahun kebanyakan anak makin dapat merasa aman dalam situasi asing bersama dengan objek lekat pengganti, misalnya dengan saudaranya atau gurunya. Namun begitu perasaan aman semacam semacam itu ada persyaratannya. Pertama figur pengganti tadi harus dapat dikenal oleh anak. Kedua, anaknya sendiri harus ada dalam kondisi sehat.

            2). Teori Paralel
Teori Paralel mengenai tingkah laku lekat mengatakan bahwa sampai dengan umur satu tahun anak akan mencari objek lekat pada satu orang, biasanya ibunya. Sesudah umur satu tahun maka orang dewasa lain atau anak-anak sebaya akan bisa menjadi objek kelekatan.
Kelekatan anak pada anak sebaya dapat memberikan banyak pengaruh terhadap pelajaran tingkah laku.
Bila kita tinjau kejadian-kejadian yang kompleks yang berhubungan dengan perkembangan sosial dan kepribadian tersebut, timbul dua pertanyaan sebagai berikut:
(1)   Kemungkinan interaksi apakah yang ada pada anak dan
(2)   Proses interaksi apakah yang timbul yang membawa ke arah suatu perkembangan tingkah laku.
Tingkah laku sosial interaktif seperti tingkah laku koperatif, altruistis dan agresif banyak dipengaruhi oleh latar belakang struktural yang disebut “role taking” (atau ambil alih peran) dan egosentrisme. Makin berkembang ambil alih peran makin kecil egosentrisme dan sebaliknya. Ambil alih peran dan egosentrisme tetap ada sepanjang hidup orang tetapi mempunyai sifat yang saling menghambat.
Egosentrisme adalah pemusatan pada diri sendiri dan merupakan suatu proses dasar yang banyak dijumpai pada tingkah laku anak; pengamatan anak banyak banyak ditentukan oleh pandangan sendiri; anak juga belum mempunyai orientasi mengenai pemisahan subjek-objek.

4.      Perkembangan Bahasa
a.       Permulaan bicara : meraban (mengoceh)
Suara pertama yang dilakukan anak adalah jerit tangis pada waktu dilahirkan. Tangis pertama berguna memungkinkan anak dapat bernafas, karena mulai saat itu anak harus bernafas sendiri. Suara-suara yang dapat dibedakan antara suara tangis dan ocehan. Tangis menunjukkan tak senang sedangkan ocehan menunjukkan rasa senang dan kepuasan. Meraban dan mengoceh mempunyai variasi yang lebih banyak daripada menangis.
b.      Kalimat satu kata dan kalimat dua kata
Satu kata yang diucapkan oleh anak harus dianggap sebagai satu kalimat penuh. Mulai kurang lebih 6 bulan maka fonem-fonem digabung menjadi kombinasi suara yang lebih kompleks. Kombinasi suara terutama dilakukan dengan bibir dan ujung lidah. Kata pertama misalnya ma-ma, ba-ba, da-da.
Di antara bulan ke-18 dan ke-20 (dengan kemungkinan penyimpangan yang banyak) datanglah kalimat dua kata yang pertama. Dalam bahasa anak ada dua kelompok kata yang spesifik, yaitu kata pivot dan kata terbuka. Kelompok yang pertama sering dipakai anak dan kelompok kedua jarang dipakai anak.
Contoh :
Pivot
Terbuka
Gi (pergi)
Susu
Gi (pergi)
Mama
Gi (pergi)
Oto

Kata pivot yang sama dapat berbeda-beda artinya dalam kombinasi dengan kata terbuka yang berlainan.
“Gi susu” dapat berarti bahwa anak tidak mau minum susu lagi, “Gi mama” berarti anak ingin bepergian dengan mamanya, sedangkan “Gi oto” berarti otonya baru saja pergi. Jadi yang penting adalah intensitas semantiknya, yaitu arti daripada apa yang dimaksudkan.
c.       Kalimat tiga kata
Perubahan ini terjadi kurang lebih antara bulan ke-24 dan bulan ke-30. Meskipun mula-mula masih mirip dengan bentuk kalimat dua-kata secara struktural, namun segera terjadi suatu differensiasi dalam kelompok kata-kata, suatu kecakapan verbal anak yang menyebabkan banyak kata-kata dimasukkan dalam klasifikasi baru. Dengan lain perkataan anak mengatur kembali kata-kata dalam bahasanya.
d.      Penelitian mengenai kecakapan berbahasa
Penelitian bahasa pada umumnya dibedakan antara:
a)      Perkembangan fonologis – atau penguasaan sistem suara/bunyi.
b)      Perkembangan morfologis – atau penguasaan pembentukan kata-kata.
c)      Perkembangan sintaksis – atau penguasaan tata bahasa.
d)     Perkembangan leksikal – atau penguasaan dan perluasan kekayaan kata-kata serta pengetahuan mengenai arti kata-kata.
e)      Perkembangan semantis – atau penguasaan arti bahasa.

5.      Anak dan keluarga
a. Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan Anak Balita
Lingkungan sosial pertama yang dikenal anak ialah keluarga. Itu sebabnya pengaruh orang-orang berperan sangat besar bagi anak khususnya pada masa Balita karena sebagian besar waktu anak ialah dalam keluarga. Dalam hal ini orangtua adalah orang terpenting bagi anak di samping saudara, kakek dan nenek, pembantu serta teman-teman sepermainan.
Itu sebabnya segala sesuatu yang dialami dan diajarkan keluarga menjadi dasar bagi pembentukan kepribadian anak.
b. Orangtua Sebagai Pendidik
Peran keluarga secara khusus orangtua sebagai pendidik sejalan dengan seruan Presiden Megawati dalam pidato tertulisnya pada peringatan ke-19 Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2003.
“Pentingnya tanggung jawab orangtua dalam membekali dan menciptakan iklim yang baik kepada anak, sehingga mereka dapat tumbuh dengan baik dan mampu memberi makna bagi kehidupan mereka, keluarga, nusa, dan bangsa”.
Pentingnya peran orangtua dalam pendidikan anak. Kepala keluarga yang dipercayakan untuk menjadi pimpinan harus dapat membuktikan bahwa anak-anaknya telah percaya dan mampu menjadi saksi.

6.      Minat pada awal masa kanak-kanak
Ada beberapa minat yang berlaku umum diantara anak-anak. Minat-minat ini meliputi:
a.       Minat pada Agama
Keyakinan agama, sebagian besar tidak berarti bagi anak-anak meskipun mereka menunjukkan minat dalam ibadah, tetapi karena banyaknya masalah yang dijelaskan dalam agama seperti adanya kematian, kelahiran, maka keingin tahuan anak menjadi besar. Akan tetapi minat pada masa kanak-kanak bersifat egosentris, misalnya: waktu berdo’a.
b.      Minat terhadap diri-sendiri
Anak menunjukkan minat pada dirinya sendiri melalui banyak cara, yang paling sering adalah dengan mengamati dirinya melalui kaca, meneliti bagian tubuh dan pakaiannya. Mengajukan pertanyaan tentang dirinya, membandingkan milik dan prestasi teman-temannya.
c.       Minat terhadap seks
Banyak anak memperhatikan minat mereka terhadap seks dengan membicarakannya dengan teman-teman bermain.
d.      Minat terhadap bermain
Anak-anak menaruh minat terhadap pakaian pada umumnya, tetapi khususnya pada pakaian yang akan dilihat orang lain. Misalnya, orang-orang diluar akan melihat jas, sepatu, dan sebagainya. Yang menjadi pusat perhatian adalah baru atau tidaknya pakaian, warna dan hiasannya.

7.      Arti bermain pada Anak
Anak tidak memisahkan bermain dan bekerja. Bagi anak, bermain merupakan seluruh aktifitas anak termasuk bekerja, kesenangannya, dan merupakan metode bagaimana mereka mengenaal dunia. Bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dll.
Anak memerlukan variasi permainan untuk kesehatan fisik, mental, dan perkembangan emosinya. Melalui bermain, anak tidak hanya menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, tetapi lebih dari itu. Anak tidak sekedar melompat, melempar, atau berlari. Tetapi mereka bermain dengan menggunakan seluruh emosinya, perasaannya dan pikirannya.
Kesenangan merupakan salah satu elemen pokok dalam bermain. Anak akan bermain sepanjang aktivitas tersebut. Dengan bermain anak mendapatkan pengalaman hidup yang nyata. Dengan bermain anak akan menemukan kekuatan serta kelemahannya sendiri, minatnya, cara menyelesaikan masalah dll.
Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak, baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreatifitas, dan sosial. Anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain akan menjadi orang dewasa yang mudah berteman, kreatif, dan cerdas bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain.

8.      Bahaya pada masa awal kanak-kanak
a.       Bahaya fisik
Bahaya fisik awal masa kanak-kanak menimbulkan reaksi psikologis maupun terutama fisik, terutama penyakit, kecelakaan dan kejanggalan.
Kecelakaan seperti : kematian, Penyakit, kecelakaan, dsb.
Kejanggalan seperti : Kegemukan dan tangan kidal
b.      Bahaya psikologis
semua perilaku anak dikaitkan denagn potensi bahaya yang dapat membawa akibat buruk pada penyesuaian pribadi dan sosial misalnya,bahaya dalam berbicara, bhaya emosional, bahaya sosial, bahaya bermain dan bahaya dalam perkembanagan konsep dsb.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar